Friday, 20 November 2015

Biology Science Club - WM ( Pembuatan Wine dan Kecap)

Jumat, 20 November 2015

     Biology Science Club Sinlui 1 berkunjung ke Fakultas Teknologi Pertanian Unika Widya Mandala Surabaya. Kami mendapatkan 2 sesi tentang materi ini, sesi pertama adalah pemberian materi dan sesi kedua praktikum. Berikut adalah materi yang kita dapatkan dari kunjungan ini.


1)      Fermentasi Tempe
Seperti yang kita ketahui, tempe adalah salah satu dari sekian banyak makanan yang dibuat secara fermentasi. Tempe terbuat dari kacang kedelai yang difermentasi.
Mikroba yang pada umumnya terdapat di dalam pembuatan tempe adalah kapang jenis Rhizopus oligosporus yang merupakan salah satu kapang dari jenis Rhyzopus oryzae. Selain kapang, bakteri juga berperan penting dalam pembuatan tempe. Bakteri yang termasuk dalam pembuatan tempe antara lain : Klebsiella, Bacillus sp., Lactobacillus sp., Pediococcus sp., Streptococcus sp., dan beberapa bakteri lainnya yang memproduksi vitamin B12.
Selama masa fermentasi, tentu saja fisik dan bahan kimia kedelai akan berubah. Hal ini diakibatkan oleh adanya kegiatan proteolitik, atau kegiatan memecah kapang yang terdapat dalam tempe menjadi asam amino, sehingga kadar nitrogen terlarut bertambah. pH yang baik untuk tempe adalah sekitar 6.3 hingga 6.5. Kedelai yang telah difermentasi menjadi lebih mudah dicerna.
Kadar air di dalam kedelai juga akan mengalami perubahan seiring terjadinya fermentasi. Kadar air akan menurun menjadi 61% setelah 24 jam fermentasi dan kembali menjadi 64% 40 jam setelah fermentasi. Peningkatan asam amino terbesar pada saat produksi adalah 72 jam setelah kedelai difermentasi. Selain itu, kandungan serat kasar dan kadar vitamin (kecuali vitamin B1) juga akan meningkat.
Cara pembuatan tempe ada 2 macam, yaitu secara tradisional dan modern. Secara tradisional, atau cara pengrajin tempe, kedelai akan dipilih dan direbus sekitar 60  –  90 menit sesuai dengan jumlah kedelai. Kemudian, kacang kedelai akan direndam di dalam air semalaman. Keesokan harinya, kedelai akan direbus lagi selama 45-60 menit. Namun, proses ini jarang dilakukan oleh pengrajin tempe. Mereka akan langsung mendinginkan kacang kedelai dan meniriskannya. Terakhir, kedelai akan diberi laru tempe dan dibiarkan selama 36 – 48 jam.
Cara modern pembuatan tempe sebenarnya mirip dengan cara tradisional namun terdapat tahap pengelupasan kulit kedelai menggunakan alat pengelupas. Pengelupasan ini akan dilaksanakan saat kedelai masih dalam keadaan kering (belum direbus). Kedelai yang dibuat dengan cara ini akan memiliki warna yang lebih pucat karena terdapat beberapa zat yang terlarut dalam air saat proses perebusan.

2)      Fermentasi Kecap Manis
Kecap manis adalah salah satu penyedap makanan yang terbuat dari bahan alami yaitu kacang kedelai hitam. Kecap diambil dari sari – sari yang terdapat di dalam kedelai kemudian dicampur lagi dengan beberapa bahan lain seperti gula, garam, dan bumbu untuk meningkatkan cita rasa makanan. Setiap kecap akan terasa berbeda karena rasa dan aroma kecap tergantung pada cara produksi, bahan baku, dan strain mikroorganisme yang digunakan. Bahan – bahan yang digunakan untuk membuat kecap antara lain, gula merah, garam dapur, kacang kedelai hitam, ragi tempe, air, dan rempah – rempah. Kedelai digunakan dalam produksi kecap karena memiliki kadar karbohidrat dan protein yang tinggi. Selain itu, dibanding kedelai kuning, kedelai hitam dapat menghasilkan kecap yang berasa lebih gurih dan sedap, sehingga pembuat kecap akan memakai kedelai hitam.
Jenis ragi yang digunakan dalam tempe sangat beragam. Namun, yang paling umum digunakan yaitu kapang jenis Aspergillus oryzae, Aspergillus wentii, dan Rhizopus oryzae. Kedelai yang sudah dicampur dengan kapang – kapang tersebut kemudian akan direndam dengan garam. Garam yang digunakan adalah garam dapur karena merupakan garam yang selektif terhadap pertumbuhan mikroba. Pada umumnya, saat fermentasi kadar garam di dalam kedelai akan meningkat hingga sekitar 15% - 20%. Gula merah dipakai saat pembuatan kecap karena gula merah tidak hanya berasa manis, namun juga terdapat rasa asam yang dihasilkan oleh asam anorganik. Sementara itu, air akan digunakan sebagai perebus kedelai, pencucian kedelai, serta pensterilan botol yang akan digunakan sebagai tempat kecap.
Produksi kecap terdiri atas 3 tahap, yaitu fermentasi, produksi, dan pengemasan. Tahap pertama yaitu fermentasi. Fermentasi dilakukan dengan cara fermentasi KOJI dan MOROMI. Fermentasi KOJI adalah fermentasi pembuatan tempe. Sedangkan, fermentasi MOROMI adalah fermentasi garam dimana bahan akan dicampur dan direndam dengan garam. Kemudian, campuran ini akan diperas yang menghasilkan saos kedelai merah. Setelah itu, saos kedelai merah akan dicampur dengan gula jawa. Kegiatan selanjutnya adalah pemasakkan ‘saos’ kecap tersebut menjadi lebih kental. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengaktifkan beberapa mikroba. Terakhir, kecap yang sudah bertekstur kental dan rasanya manis tersebut akan disaring untuk memisahkan kotoran dengan kecap tersebut. Setelah semuanya selesai, kecap akan ditempatkan sendiri – sendiri di dalam botol.

3)      Fermentasi ‘Anggur’ Nanas
Fermentasi minuman anggur sebenarnya telah dilakukan sejak jaman dahulu. Minuman anggur biasanya digunakan orang – orang sebagai minuman dalam pesta – pesta. Salah satu contohnya adalah saat pesta perkawinan di Kana yang terdapat di dalam alkitab. Di sana, diceritakan bahwa minuman anggur merupakan minuman utama dalam sebuah acara pernikahan. Tidak berhenti di sana, fermentasi anggur adalah kegiatan yang terus menerus dilakukan oleh manusia dari generasi ke generasi.
Sebenarnya, fermentasi anggur sangat gampang dilakukan karena hanya terdiri atas 2 bahan, yaitu ragi dan jus anggur. Jus anggur yang digunakan tersebut sebenarnya dapat diganti dengan jus apa pun. Dan kali ini, sari buah yang difermentasi sebenarnya bukan jus anggur, namun nanas. Pihak Widya Mandala menjelaskan bahwa pertumbuhan anggur hanya dapat di daerah tertentu saja. Sedangkan, di Indonesia banyak sekali terdapat nanas. Oleh karena itu, mereka mencoba menggunakan jus nanas sebagai bahan wine yang baru. Setelah berhasil, wine nanas tersebut rencananya akan diperjualbelikan.
Buah yang baik untuk digunakan dalam pembuatan wine adalah buah yang mengandung asam – asam seperti asam tartar, malat, dan sitrat. Asam tartart adalah antioksidandan menghasilkan rasa asam. Asam malat dikenal sebagai asam buah contohnya pada buah apel. Asam sitrat adalah pengawet alami yang juga memberi rasa asam. Sedangkan, untuk ragi yang digunakan adalah Saccharomyces sp. Khamir ini akan mengubah gula menjadi alkohol dan karbon dioksida. Namun, khamir tidak akan dapat tumbuh dengan sempurna jika tidak terdapat sumber ‘makanan’ baginya. Oleh karena itu, selama proses fermentasi wine akan ditambahkan amonium fosfat sebagai sumber nitrogen atau ‘makanan’.
Proses fermentasi jus buah akan menghasilkan karbon dioksida dan alkohol. Saat alkohol tersebut sudah mencapai kadar 15%, maka proses fermentasi akan diberhentikan. Selama proses fermentasi akan sering ditambahkan nitrogen dan mikronutrien sebagai bahan yang menghambat perumbuhan H2S. Jika zat ini muncul maka akan keluar bau tidak sedap. Selama fermentasi, cairan yang dihasilkan disbut ‘must’. ‘Must’ akan terus diaduk untuk mencegah tumbuhnya bakteri. Must akan mulai bergelebung pada jam ke 8 – 20. Tahap awal proses fermentasi wine adalah 5 – 10 hari, white wine 10 – 15 hari.
Pada tahap kedua fermentasi, wine akan dipindahkan ke fermentor yang menghambat masuknya oksigen. Di dalam tahap ini akan dihasilkan alkohol yang berkadar lebih tinggi dari sebelumnya. Kadar tersebut akan bergantung pada bahan yang digunakan.

      Pada praktikum ini selain kita diajarkan cara pembuatan wine dari nanas dan kecap, kami juga diijinkan mencicipi wine dari nanas yang dibuat tahun 2005 bersama 1 scoop es krim (karena kita masih belum diijinkan minum wine jadinya hanya diberikan sesendok saja :') dan dicampur dengan es krim ) Selain itu kami juga diijinkan mencicipi kecap manis dengan tahu goreng dan tempe goreng. mengapa dipilih tempe goreng? Alasannya kami sebagai generasi muda dapat lebih mengenal dan mencintai produk buatan Indonesia yaitu tempe. Selain itu semua kami juga mendapatkan sertifikat :)

Berikut adalah nama peserta yang mendaftar pelatihan ini


No     Nama L/P Kelas
    1   Kezia Mellyani P X-A
2   Melody Ceria Kasih P X-A
3   Steven Jonathan Suhardi L X-A
4   Richard Winarto L X-B
5   Sherly Maclaine Gunawan P X-B
6   David Nugraha L X-D
7   Macmiliac Lam L X-D
8   Angela Saphira Giovani P X-F
9   Christine Davina P X-F
10   Felix Kurniawan L X-F
11   Handy Budiman L X-F
12   Ivan Chandra L X-F
13   Leonardus Patrick Karundeng L X-F
14   Feronica Natalia Rivaldi P X-G
15   Gracia Stephanie Tanumulyo P X-G
16   Howard Ed Terrence L X-G
17   Priscilla Angeline P X-I
18   Evander Beesean Liengkie L X-J
19   Stephen William Sutjiadi L X-J
20   Meliny Angela Sentosa P X-K
21   Synclair Chendranaga L X-L
22   Agnes Agustin P X-M
23   Bella Meylani Lifinda P X-M
24   Nathasya Merry P XI-IA 2
25   Priscilla Listiyani P XI-IA 2
26   Steven Candra L XI-IA 2
27   Felicia Evelyn P XI-IA 2
28   Kevin Wijaya L XI-IA 2 
29   Michelle Clarissa P XI-IA 3
30   Anita Dominique P XI-IA 5
31   Eunike Alicia Valentina P XI-IA 7
32   Giovanni Hartanto L XI-IA 9
33   Roseline Alim Santoso P XI-IA 9
34   Pierre Yosia Edward K L XI-IA 9
35   Garry L XI-IA 9
36   Felicia Nadia Hadisurya P XI-IA 9
37   Afelia Mettania Wijaya P XI-IA 10
38   Saka Cahyadewa Tanaya L XII-IA 2
39   Helen Eko P P XII-IA 2
40   Maria Elizabeth Sylvinna P XII-IA 3
41   Ivan Mahardika Yusuf L XII-IA 6
42   Estherlita Wendy Anthony P XII-IA 6
43   Evelyn Christina Kurniawan P XII-IA 7
44   Chelsea Angela Tanudjaja P XII-IA 7
45   Vincentius Michael Willianto L XII-IA 8
46   Gabriella Desica P XF
47   Jeff Sebastian L XI-IA 10
Pemberian materi
pesertanya serius banget :)

Ekspresi mendapat Es krim pertama
es krim + wine















Ketua BSC 2014-2015






 By : Priscilla Listiyani XI-IA 2 / 20
&                      
Michelle Clarissa XI-IA 3 /  26





Saturday, 10 October 2015

Kancing Genetika

Sabtu, 10 Oktober 2015

Dasar Teori

Hukum mendel satu adalah perkawinan dua tetua yang mempumyai satu sifat beda (monohibrid). Setiap individu yang berkembangbiak secara seksual terbentuk dari peleburan dua gamet yang berasal dari induknya. Berdasarkan hipotesis mendel setiap sifat/ karakter ditentukan oleh gen (sepasang alel). Hukum mendel satu berlaku pada waktu gametogenesis F1 X F1 itu memiliki genotipe heterozigot. Dalam perestiwa meiosis, gen sealael akan terpisah, masing-masing akan membentuk gamet. Waktu terjadi penyerbukan sendiri (F1 X F1) dan pada proses fertilisasi gamet-gamet yang mengandung gen itu akan melebur secara acak dan terdapat empat macam peleburan atau perkawinan. (penuntun praktikum, 2014)
            Hukum Mendel I dikenal sebagai hukum Segregasi. Selama proses meiosis berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan tidak berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel gamet. Proses pemisahan gen secara bebas dikenal sebagai segregasi bebas. Hukum Mendel I dikaji dari persilangan monohibrid. (Syamsuri, 2004:101)
   Hukum Mandel I berlaku pada gametogenesis F1. F1 itu memiliki genotif heterozigot. Baik pada bunga betina maupun benang sari, terbentuk 2 macam gamet. Maka kalau terjadi penyerbukan sendiri (F1 x F1) terdapat 4 macam perkawinan. (Wildan Yatim, 1996:76).
Pada galur murni akan menampilkan sifat-sifat dominan (alel AA) maupun sifat resesif (aa) dari suatu karakter tertentu. Bila disilangkan, F1 akan mempunyai kedua macam alel (Aa) tetapi menampakkan sifat dominan (apabila dominant lengkap). Sedangkan individu heterozigot (F1) menghasilkan gamet-gamet, setengahnya mempunyai alel dominan A dan setengahnya mempunyai alel resesif a. Dengan rekomendasi antara gamet-gamet secara rambang populasi F2 menampilkan sifat-sifat dominant dan resesif dengan nisbah yang diramalkan. Nisbah fenotif yaitu 3 dominan (AA atau Aa) : 1 resesif (aa). Nisbah geneotif yaitu 1 dominan lengkap (AA) : 2 hibrida (Aa) : 1 resesif lengkap (aa). (L. V. Crowder, 1997:33)
            Genetika yang sesungguhnya baru dimulai pada decade kedua dari abad ke-19 setelah mendel menyajikan secara hati-hati hasil analisis beberapa percobaan persilangan yang dibuatnya pada tamanan ercis/kapri (Pisum sativum). (Suryo, 1990).
            Johann Mendel lahir tanggal 22 Juli 1822 di kota kecil Heinzendorf di Silesia, Austria. (Sekarang kota itu bernama Hranice wilayah Republik Ceko.) Johann memunyai dua saudara perempuan. Ayahnya adalah seorang petani. Minatnya dalam bidang hortikultura ternyata dimulai sejak dia masih kecil. (Paskah,2010).
            Eksperimen Mendel dimulai saat dia berada di biara Brunn didorong oleh keingintahuannya tentang suatu ciri tumbuhan diturunkan dari induk keturunannya. Jika misteri ini dapat dipecahkan, petani dapat menanam hibrida dengan hasil yang lebih besar. Prosedur Mendel merupakan langkah yang cemerlang dibanding prosedur yang dilakukan waktu itu. Mendel sangat memperhitungkan aspek keturunan dan keturunan tersebut diteliti sebagai satu kelompok, bukan sejumlah keturunan yang istimewa. Dia juga memisahkan berbagai macam ciri dan meneliti satu jenis ciri saja pada waktu tertentu; tidak memusatkan perhatian pada tumbuhan sebagai keseluruhan. Dalam eksperimennya, Mendel memilih tumbuhan biasa, kacang polong, sedangkan para peneliti lain umumnya lebih suka meneliti tumbuhan langka. Dia mengidentifikasi tujuh ciri berbeda yang kemudian dia teliti:
·         bentuk benih (bundar atau keriput)
·          warna benih (kuning atau hijau)
·         warna selaput luar (berwarna atau putih)
·         bentuk kulit biji yang matang (licin atau bertulang)
·         warna kulit biji yang belum matang (hijau atau kuning)
·         letak bunga (tersebar atau hanya di ujung)
·         panjang batang tumbuhan (tinggi atau pendek). (Paskah, 2010)
Mendel melakukan percobaan selama 12 tahun. Dia menyilangkan (mengawin silang) sejenis buncis dengan memerhatikan satu sifat beda yang menyolok. Misalnya, buncis berbiji bulat disilangkan dengan buncis berbiji keriput, buncis dengan biji warna kuning disilangkan dengan biji warna hijau, buncis berbunga merah dengan bunga putih, dan seterusnya. (Fandri, 2009).

Alat dan bahan:

  • 1 set kancing genetika
  •  Kertas
  • Alat tulis
  •  Kantung kain

Cara kerja:

  1.        Menyediakan 4 warna kancing genetika yang telah dikaitkan satu dengan lainnya pada masing-masing warna: warna merah-kuning, merah-putih, hijau-kuning, hijau-putih
  2.       Mengasumsikan warna merah (dominan) dengan hijau (resesif) untuk sifat warna merah dan hijau. Dan warna kuning (dominan) dengan putih (resesif) untuk sifat tinggi dan pendek.
  3.       Memasukkan masing-masing kancing yang telah dikancingkan ke dalam kantung biru (induk jantan) dan kantung merah (induk betina) dengan masing-masing kantung berjumlah 15 pasang kancing merah-kuning, merah-putih, hijau-kuning, hijau-putih.
  4.       Memasukkan kedua tangan ke dalam masing-masing kantung, kemudian mengambil 1 kancing dari masing-masing kantung secara bersamaan. Lalu mencatat hasilnya pada kertas. Setelah itu, mengulang kembali (setelah kancing yang terambil dikembalikan pada kantung nya) sebanyak 15 kali.
  5.        Hitung semua hasil








 By : Felicia Nadia XI-IA 9 / 34

Saturday, 12 September 2015

Pembuatan Keju

Sabtu, 12 September 2015

Dasar Teori

Keju merupakan suatu produk pangan yang berasal dari hasil penggumpalan (koagulasi) dari protein susu. Susu yang digunakan untuk pembuatan keju adalah susu sapi walaupun susu dari hewan lain juga dapat digunakan. Selain dari kasein (protein susu), komponen susu lainnya seperti lemak, mineral-mineral dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak juga terbawa dalam gumpalan partikel-partikel kasein. Sedangkan komponen-komponen susu yang larut dalam air tertinggal dalam larutan sisa dari hasil penggumpalan kasein yang disebut whey.
Produk keju dibuat melalui proses fermentasi yang menggunakan mikroorganisme bakteri Streptococcus lactis. Namun pada fermentasi kali ini keju dibuat dengan bantuan asam cuka makan, asam cuka makan dapat menghasilkan gumpalan susu berbentuk seperti tahu. Gumpalan ini kemudian dipadatkan. Dan menggunakan garam untuk mempercepat proses pengeringan, penambah rasa dan pengawet.

Alat dan bahan

  •         Kain saringan
  •     Susu UHT
  •     Garam
  •     Teh cuka

Cara kerja:

1.      Menyiapkan panci diatas wajah, lalu menuang susu dan memasaknya hingga mendidih. Mengaduk sesekali agar susu tidak hangus atau lengket.
2.      Setelah mendidih, mendiamkan susu selama beberapa menit, lalu menambahkan cuka atau air lemon. Hal tersebut bertujuan untuk memisahkan zat padat pada susu dengan zat cair (whey). Mengaduk hingga rata selama 5-10 menit.
3.      Setelah menjadi gumpalan susu yang terpisah, menyiapkan saringan yang telah dilapisi oleh kain bersih untuk menyaring. Menyaring hingga benar-benar terpisah dengan air.
4.      Mencampur hasil perasan dengan garam secukupnya.
5.      Setelah tercampur, menuang hasil perasan tersebut kedalam wadah, lalu meniriskannya.
6.      Memasukkan ke dalam lemari pendingin untuk kemudian dinikmati seperti biasa.



 Sebenarnya Praktikum kali ini menggunakan lemon, bukan cuka. Namun, setelah dicoba sekian banyak air lemon yang dicampurkan susu belum menggumpal. Akhirnya kita tambahkan cuka dan susu baru mulai menggumpal. Hasil nya keju terasa gurih dan asam, terksturnya seperti pasta, aroma cuka sangat kuat.

Masak susu hingga mendidih
Tambahkan cuka

Saring campuran susu dan cuka
letakkan hasil saringan (bukan air nya) di dalam wadah






By : Felicia Nadia XI-IA 9 / 34

Saturday, 29 August 2015

Pembedahan Tikus

Sabtu, 29 Agustus 2015
BSC melakukan praktek pembedahan tikus.

PENGANTAR

Mengapa tikus banyak digunakan sebagai hewan percobaan?
Selain beberapa alasan praktis dan ekonomis, para ilmuwan seringkali menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) sebagai hewan percobaan karena karakteristik genetik, biologi, dan perilaku tikus sangat mirip dengan manusia. Anatomi tubuh tikus memiliki banyak persamaan dengan tubuh manusia.

ALAT

  •         Ether
  •          Kapas
  •          Pisau skalpel
  •      Gunting bedah
  •      Jarum pentul
  •       Papan bedah dari lilin

BAHAN

  •      Tikus
CARA KERJA :

Pembiusan 

Teknik anestesi yang digunakan adalah teknik anestesi dengan menggunakan ether.
Cara :
1.      Teteskan ether secukupnya pada kapas
2.      Masukkan kapas ke dalam toples
Setelah kapas yang mengandung ether dimasukkan ke dalam toples, tikus-tikus di dalam toples berangsur-angsur akan pingsan dan siap untuk dibedah. Penting untuk diketahui, tikus hanya dibuat pingsan tetapi tidak sampai mati.

Pembedahan

Teknik pembedahan yang digunakan adalah teknik pembedahan bersih, di mana darah dari hewan percobaan diminimalisasi dan hewan percobaan diusahakan dalam keadaan hidup sampai akhir percobaan (jantung tetap berdenyut).
Cara kerja :
  1.       Posisikan tikus pada papan bedah (papan lilin) menggunakan jarum pentul
  2.     Angkat kulit di bagian perut, jepit dengan menggunakan pinset. Jangan sampai terkena anus maupun saluran kelamin.
  3.        Potong kulit menggunakan gunting sampai ke bagian leher.
  4.       Setelah kulit terpisah dari tubuh tikus sampai di bagian leher, potong ke samping menuju kedua tangan sehingga organ dalam tikus dapat terlihat sempurna.
  5.       Bersihkan lapisan di bawah kulit dengan menggunakan pisau bedah.
  6.        Untuk memudahkan pengamatan, kulit tikus bisa diberi jarum pentul.
  7.       Untuk melihat jantung, potong tulang rusuk tikus. Di dalam rongga dada terdapat jantung dan paru-paru, jika pembedahan bersih tercapai maka sampai akhir proses pembedahan, jantung tikus tetap berdetak.


Hasil pembedahan 
Kelompok 1 mencoba memulai pembedahan

Suasana Lab saat memulai pembedahan

Kelompok 1

Kelompok 2

kelompok 3

Kelompok 4



posisikan tikus dengan jarum pentul

Potong mulai dari bagian bawah

Buka kulit tikus sehingga dapat terlihat organ dalamnya


 dalam melakukan pembedahan sebaiknya tidak bermain- main dengan hewan yang dijadikan objek pembedahan karena objek pembedahan merupakan makhluk hidup

By : Anita Dominique XI-IA 5 / 18

Saturday, 22 August 2015

Ekstraksi DNA

Sabtu, 22 Agustus 2015
Biology Science Club (BSC) mengadakan praktikum “Ekstraksi DNA”
Ekstraksi DNA dari buah-buahan

Apa itu DNA?

            DNA merupakan persenyawaan kimia yang paling penting pada makhluk hidup, yang membawa keterangan genetik dari sel khususnya atau dari makhluk dalam keseluruhannya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Molekul DNA terdapat pada nukleus, mitokondria, plastida dan sentriol. Molekul DNA pada nucleus memiliki bentuk sebagai benang lurus dan tidak bercabang, sedangkan DNA yang terletak pada mitokondria dan plastida berbentuk lingkaran (Suryo, 2012 : 59).        

PENGANTAR

Isolasi DNA

DNA pada makhluk hidup dapat diisolasi secara sederhana. Pengisolasian DNA secara sederhana dapat dilakukan dengan memecahkan dinding sel, membran plasma dan membran inti baik secara mekanik maupun secara kimiawi. Isolasi DNA merupakan suatu teknik yang digunakan untuk memperoleh DNA murni, yaitu tanpa protein dan RNA dari suatu sel dalam jaringan.
Proses isolasi DNA diawali dengan proses ekstraksi DNA. Hal ini bertujuan untuk memisahkan DNA dengan partikel lain yang tidak diinginkan. Proses ini harus dilakukan dengan hati-hati, sehingga tidak menyebabkan kerusakan pada DNA. Untuk mengeluarkan DNA dari sel, dapat dilakukan dengan memecahkan dinding sel, membran plasma dan membran inti baik dengan cara mekanik maupun secara kimiawi. Cara mekanik bisa dilakukan dengan pemblenderan atau penggerus menggunakan mortar dan pistil. Sedangkan secara kimiawi dapat dengan pemberian yang dapat merusak membran sel dan membran inti, salah satunya adalah deterjen

ALAT DAN BAHAN

  •       Gelas Beker
  •              Pisau
  •       Pengaduk
  •       Penyaring (tissue/kapas)
  •            Spatula
  •      Tabung reaksi dan rak tabung reaksi
  •      Gelas kimia
  •      Pipet tetes
  •      Gelas ukur
  •     Corong saring
  •     Mortar dan alu

BAHAN

  •              Buah (pisang, jeruk, semangka)
  •       Deterjen (rinso, attack, bukrim)
  •       Aquades
  •            Garam dapur (NaCl)
  •      Etanol 96%

Cara Kerja

1.      Haluskan buah-buahan dengan menggunakan mortar dan alu
2.      Ambil ekstrak buah dari proses penggerusan (ekstrak adalah cairannya)
3.      Panaskan air sebanyak 30 ml 1-2 menit dengan gelas beker.
4.      Masukkan ekstrak buah ke dalam tabung reaksi (perbandingan ekstrak buah : air = 2 : 1)
5.      Tambahkan garam 1 sendok dan detergen 2 sendok
6.      Tambahkan alkohol ¼ tabung reaksi (perbandingan campuran ekstrak : alkohol = 1 : 1)
7.      Aduk hingga merata, amati awan-awan putih yang terbentuk pada bagian atas tabung, itulah DNA yang berhasil diisolasi.

PENJELASAN :

1.      Penggerusan
Proses ini bertujuan untuk mendapatkan ekstrak buah sekaligus merupakan pemecahan dinding sel secara mekanik.
2.      Penambahan Detergen
Penambahan deterjen dalam isolasi DNA dapat dilakukan karena deterjen dapat menyebabkan rusaknya mebran sel, melalui ikatan yang dibentuk melalui sisi hidrofobik deterjen dengan protein dan lemak pada membran membentuk senyawa ”lipid protein-deterjen kompleks”. Senyawa tersebut dapat terbentuk karena protein dan lipid memiliki ujung hidrofilik dan hidrofobik, demikian juga dengan deterjen, sehingga dapat membentuk suatu ikatan kimia (Machmud, 2006).
3.      Penambahan Garam
Penambahan Garam pada dasarnya bertujuan untuk merusak dinding sel karena menyebabkan perbedaan osmolaritas sel, di mana lingkungan di sekitar sel hipertonis sedangkan sel itu sendiri bersifat hipotonis, akibatnya sel akan mengalami krenasi mengakibatkan rusaknya dinding sel. Dinding sel yang rusak memudahkan proses isolasi DNA.
4.      Proses pemanasan
Proses pemanasan bertujuan untuk merusak dinding sel tanpa merusak materi DNA yang terkandung dalam sel. Selain itu, proses pemanasan bertujuan untuk mempercepat proses pelarutan.
5.      Awan-awan yang terbentuk dan penggunaan etanol

Setelah menunggu beberapa saat terjadi presipitasi pada lapisan atas bukan lapisan bawah, yang menunjukkan bahwa DNA tidak larut dalam etanol tetapi larut dalam air. Ketika molekul DNA terlarut, mereka tersebar dalam larutan sehingga tidak terlihat. Ketika molekul tersebut berpindah kedalam larutan yang bukan pelarut meraka akan berkumpul/ menggumpal sehingga dapat dilihat. Presipitat DNA terlihat seperti serabut-serabut putih yang terkumpul diatas permukaan larutan karena masa jenis etanol lebih kecil dari pada masa jenis air. Etanol yang digunakan harus benar-benar dingin dan berasal dari lemari pendingin, hal ini bertujuan untuk menyempurnakan presipitasi. Apabila etanol yang digunakan kurang dingin, maka mengakibatkan pembentukan presipitat kurang sempurna. 
Suasana Lab

Bahan Bahan untuk ekstraksi DNA





Hasil Ekstraksi DNA jeruk

Hasil Ekstraksi DNA

















By : Anita Dominique XI-IA 5/ 18

Saturday, 8 August 2015

Perkenalan Program

     Pada tanggal 8 Agustus 2015 adalah pertemuan pertama ekstra BSC. Dari data yang kami dapat anggota ekstra BSC ada 54 orang, tapi yang hadir pada hari ini hanya 36 orang. Pertemuan kali ini membahas tentang program-program BSC selama 1 semester ke depan dan perkenalan pengurus BSC 2015-2016. Berikut adalah saran-saran programnya

  • ekstraksi DNA
  • pembedahan (tikus/ikan/burung)
  • kancing genetika
  • pembuatan keju
  • pembuatan media bakteri
  • pewarnaan bakteri
  • kunjungan ke fakultas teknologi pangan universitas Unika Widya Mandala
  • Study trip ke Malang
Program- program yang berhasil diwujudkan akan diuraikan pada post post berikutnya :)
Pengurus untuk BSC tahun 2015-2016
Pembina     : Petrus Eko Sugiharto, S.Si., M. Kes
Ketua         : Priscilla Listiyani  (XI-IA 2 /20)
Wakil         : Felicia Nadia         (XI-IA 9 /34)
Bendahara : Michelle Clarissa   (XI-IA 3 /26)
Sekretaris  : Anita Dominique   (XI-IA 5 /18)
                    Eunike Alicia         (XI-IA 7 /26)


dari kiri PAk Eko, Afelia, Priscilla, Felicia, Eunike, Michelle, Anita, Estherlita 
Fotonya bukan waktu perkenalan program sih :)


By : Priscilla Listiyani XI-IA2/ 20